??? Kuning-kuning itu Pisang apa Tai…???

Apa jadinya bila jiwa dan raga ini sudah tak lagi berjalan dalam keseimbangan…??? Jawabku adalah “keGelisahan”… Maka kuputuskan untuk resign dari pekerjaanku dalam 2 bulan kedepan untuk merencanakan kembali ke kampung halaman karena berbagai alasan yang sudah kutimbang berkali-kali akan baik dan buruknya bagi kehidupanku kelak. Melepas kepenatan pada bulan-bulan terakhir dengan melakukan perjalanan menyusuri Jawa Barat menggunakan motor dengan sedikit adrenalin yang tersisa adalah satu hal yang tak pernah kulupa dan trayek awal perjalanan adalah mengunjungi kawan di Serang – Banten.

Pada posting kali ini temanya adalah Tribute to kupu kupu yang artinya saya tidak akan menjelaskan dengan bahasa saya sendiri karena sang kupu kupu menyebalkan itu pernah memberikan karya tulisnya tentang Keraton Kaibon Banten kepadaku. Kenapa saya bilang menyebalkan..?? ya sama hal nya melihat kuning-kuning di kali itu Pisang apa Tai, kalau Pisang itu mubadzir tapi kalau Tai itu najis tapi kalau tidak disamperin itu mana bisa tauu itu Pisang apa Tai… Piye nak ngunu terusan…???

Kata yang mungkin bisa menggambarkan kesebalanku itu adalah “Paradok” antara benar atau salah atau salah atau benar yang nyaris tiada beda bak hukum “Bejana Berhubungan” atau bisa juga “Jurus tai Chi”. Bagaimana tidak… jika kujadikan dia sebagai Lawan, maka aku bukan manusia bodoh lagi tapi goblog karena hal itu sama hal nya dengan memukul bayanganku sendiri di air. Jika kujadikan dia sebagai Kawan, maka aku juga tetap goblog karena hal itu sama halnya dengan menempelkan lintah di jidatku (bisa tambah error otakku nanti).

Sudah ahh… cukup…. Monggo disekeca’aken cerita perjalanan di Serang Banten tribute to kupu kupu menyebalkan. Cekidot………..

Surasowan, Petilasan di Tengah Persawahan

Ketika aku bertanya kenapa harus Serang, sahabatku menjawab karena dia ingin melihat sawah. Jawaban klise namun justru membuatnya bercerita panjang lebar tentang alasan kedatangannya ke Serang yang dalam bahasa Sunda artinya sawah itu.

Memikirkan apa saja yang akan menjadi objek foto di Banten, selain beberapa pantainya yang sudah meng-Indonesia aku teringat pada bekas Keraton Banten di Serang yang pernah kudapati di layar kaca. Sebuah situs purbakala seluas 4 hektare di tengah area persawahan. Karenanya aku meminta oleh-oleh jepretan petilasan Keraton itu diantara pelbagai rencananya mengejar keindahan di ujung barat pula jawa dengan iming-iming akan kubuatkan catatan perjalanannya.

Tak banyak sebenarnya yang bisa kuceritakan dari sebuah perjalanan yang tak aku lakukan sendiri. Namun berdasarkan cerita, foto dan sedikit lieratur aku akan mencoba menyajikan yang terbaik dari Surasowan, petilasan kejayaan di tengah persawahan.

Sisa bangunan tua mulai terlihat diantara rumpun padi saat memasuki pintu gerbang situs Banten. Gapura Gedong Ijo namanya, sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal para perwira keraton. Gapura yang membuat sahabatku teringat pada pelajaran seni sewaktu kami kelas satu SMA dulu dimana guruku menjelaskan bahwa bentuk sebuah gapura itu menjelaskan corak dari kerajaannya.

Semakin menuju ke dalam, puing-puing bangunan yang lebih besar menyambut seakan ingin menceritakan masa lalu dimana kejayaan pernah menjadi milik Kesultanan Banten di abad XVI-XVII Masehi. Reruntuhan bangunan yang terbuat dari tumpukan batu bata merah dan karang itu merupakan tempat tinggal para sultan Banten mulai dari Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552 hingga Sultan Haji di tahun 1687 yang membawa Banten pada keruntuhannya. Beberapa yang masih bisa dinikmati dari bangunan utama ini adalah benteng setinggi 0,5-2 meter yang mengelillingi dan sisa-sisa pondasinya.

Menjelajahi keraton tersebut kita bisa menjumpai sebuah bangunan kolam persegi empat yang konon katanya merupakan bekas kolam Rara Denok, pemandian para putri sultan. Disisi yang lain kita juga bisa melihat sisa bangunan berbentuk kolam yang menempel pada tembok yang katanya digunakan sebagai pemandian pria-pria keraton dan disebut sebagai Pancuran Mas.

Menurut cerita, air yang dialirkan ke Rara Denok dan Pancuran Mas dulunya berasal dari Tasik Ardi, sebuah kolam buatan yang letaknya 2,5 kilometer sebelah barat daya keraton yang dialirkan dengan pipa dari tanah liat. Air dari Tasik Ardi harus melalui 3 bangunan penyaringan sebelum  memsuki keraton, yaitu Pangindelan Abang, Pangindelan Putih dan Pangindelan Mas. Lokasi Tasik Ardi sendiri masuk dalam wilayah Desa Margasana, Kecamatan Keramat Watu, Kabupaten Serang yang sekarang ini dijadikan tempat rekreasi. Namun, karena jaraknya lumayan jauh untuk di tempuh sahabatku tak menyempatkan diri untuk menjamahnya.

Di sudut yang lain terlihat sebuah bangunan menyerupai cincin yang disebut ruang Pasepen, ruang yang menjadi tempat ibadah para sultan.

Peninggalan-peninggalan lain di Situs Banten yang berhasil diabadikan adalah Meriam Ki Amuk, Watu Gilang serta Batu Penggilingan teh dan merica. Menurut tulisan yang terbaca pada meriam Ki Amuk, meriam tersebut merupakan hadiah dari Ki amuk sebagai raja Demak kepada Sultan Hasanuddin yang memimpin Banten kala itu. Meriam yang terbuat dari perunggu ini konon berasal dari Turki dengan berat pelurunya sekitar 7 ton. Pada moncongnya terdapat hiasan 8 penjuru mata angin dan bagian atas badannya terdapat 3 buah huruf arab.

Namun sayang, ada beberapa bangunan atau tempat yang tak sempat mampir di memori kamera karena keterbatasan waktu menyusuri sejarah kejayaan Banten. Beberapa objek terlewatkan itu diantaranya adalah Benteng Speelwijk, Pelabuhan Karangantu sebagai jembatan tertua di Banten, Wihara Alokitesvara yang menjadi simbol toleransi umat beragama kala itu, Jembatan Rante di atas kanal yang sekarang berubah fungsi menjadi kubangan air, Istana Kaibon yang dulunya menjadi tempat tinggal Ratu Aisyah yang menjabat sebagai pemimpin pemerintahan karena Sultan Rafiuddin anaknya saat itu masih berusia 5 tahun, serta Masjid Agung Banten dan menaranya yang dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin dengan perpaduan arsitektur jawa dan asing adalah merupakan bukti islam pernah mencapai kejayaannya disana.

Dokumentasi :

kaibon1.jpgkaibon2.jpgkaibon3.jpgkaibon4.jpgkaibon5.jpgkaibon6.jpgkaibon7.jpgkaibon8.jpg

Tags: , , , , , , , ,

About Andri Cahyono

Kesadaran adalah Matahari... Kesabaran adalah Bumi... Keberanian menjadi Cakrawala... dan PERJUANGAN adalah Pelaksanaan Kata-kata...

ARTIKEL TERKAIT.....
  • » Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 4)
  • » Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 3)
  • » Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 2)
  • » Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 1)
  • » Kue Tart dari Sterofom
  • » Adobe Photoshop CS5 (From Zero to Hero)
  • » Tutorial Memotret Makro (Reverse Lens) Nikon
  • » Pengertian Desain Grafis
  • » Tips dan Triks Memilih Kamera Digital
  • » Awal Perjalanan si Fulan Keturunan Adam
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 4)
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 3)
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 2)
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 1)
  • » Benarkah AKU ini hanya sebuah Boneka Kehidupan

  • Subscribe to Comments RSS Feed in this post

    2 Responses

    1. mantebs sajian nya mas broo.. kapan2 main lg k banten tar ane ajak k tmpt bendungan tua yg pernah di kunjungi bpk proklamator kita Ir. Soekarno.. and blm lengkap k banten klo blm main ke Baduy..

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *
    *