Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 3)

Bak melewati jalan tol… 3 bulan pertama di ibu kota negara ini berjalan sangat mulus, dari sisi hubunganku dengan orang-orang terdekatku aku berusaha untuk selalu meluangkan waktuku setiap pulang kerja untuk menelpon mereka meski hanya sebentar sedangkan pada sisi pekerjaan juga tak kalah mulus dari menjadi tukang bikin kopi, tukang pengantar surat, tukang rekap data, tukang ketik, tukang servis komputer sampai dipercaya jadi tukang bikin website dadakan sekaligus tukang update berita (promosi)…

Promosi dari media cetak dan media internet telah dijalankan, walhasil divisi kesekretariatan pun mulai kelabakan karena banjir surat penawaran dari klien/perusahaan dan yang membuat dahiku sedikit berkerut adalah posisiku yang berada di garda paling depan untuk masalah ini. Hilangnya ketenangan tahap pertama dengan mulai munculnya telpon-telpon ke HP bututku dengan nomor yang tidak dikenal yang seringkali tak kenal waktu hanya untuk tawar menawar tak jelas adalah harga yang harus kubayar yang memaksa  tubuh tegapku ini perlahan mulai sedikit membungkuk lantaran staminaku terus terforsir dari pagi hingga petang tiap hari pada bulan berikutnya. Bangun pagi serasa amat susah meski alarm dah berkali-kali berbunyi, beruntung si Ima selalu setia menelfonku setiap paginya untuk segera bergegas dari pulau kapuk.

Semakin hari kondisiku semakin memburuk dengan ditandai meningkatnya tekanan darahku menjadi 142/135 atas bawah. Bu dokter yang memeriksa sempat heran sampai menyuruhku untuk membuka baju untuk melakukan cek lemak di tubuhku, saking herannya ia mengeluarkan alat pengukur yang baru di lemarinya hanya untuk memastikan apa benar lelaki berumur 24 tahun yang bertinggi 177 cm/ 65 kg dengan lemak yang masih bisa ditolerir bisa mendapati angka tekanan yang terbilang fantastis. Beberapa saat kemudian ia memberikan obat kepadaku dengan merk,”Jangan pernah membawa permasalahan di kantor sampai di rumah, lepas semuanya dan mulailah belajar untuk tidur nyenyak baik ada maupun tiada masalah…” Hmmm…. Betapa mahal kurasa harga obat itu karena sedari dulu aku ini orangnya usil dan suka melakukan hal-hal iseng kalau sedang nganggur.

Aku mulai membuka diri untuk segera bersosialisasi dengan penduduk setempat agar aku tak merasa kesepian di tengah kota yang ramai itu. Pada akhir minggu kusempatkan pula untuk gathering dengan kawan-kawan dunia maya dari forum grafis dan forum IT. Lo lo lo gw gw gw… bahasa yang aneh yang kudengar dari mereka, tapi aku harus bisa tahan dan harus sanggup beradaptasi dengan cepat jika aku ingin tetap melanjutkan dominasiku. Perlahan tapi pasti bahasa Indonesia-Jawa (medok)ku berangsur hilang dan berganti bahasa Indonesia yang sedikit (kemenyek) ala anak gedongan (baca: gaul). Gathering di tempat-tempat yang strategis semacam Monas dan rumah makan cepat saji setiap minggunya membuat kami semakin akrab satu sama lain dan aku pun mulai menerima keberadaan manusia seperti mereka meski dulunya aku sangat sumpek liat dandanannya yang berkesan glamour baik laki-laki maupun perempuan. Well… yang jelas Hidupku kembali berjalan dengan dengan lancar dan teratur meski dengan sedikit ada keterpaksaan…

Tags: , , , , , , , , ,

About Andri Cahyono

Kesadaran adalah Matahari... Kesabaran adalah Bumi... Keberanian menjadi Cakrawala... dan PERJUANGAN adalah Pelaksanaan Kata-kata...

ARTIKEL TERKAIT.....
  • » ??? Kuning-kuning itu Pisang apa Tai...???
  • » Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 4)
  • » Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 2)
  • » Sebuah Motivasi yang Berawal dari Penyakit Hati (Part 1)
  • » Kue Tart dari Sterofom
  • » Adobe Photoshop CS5 (From Zero to Hero)
  • » Tutorial Memotret Makro (Reverse Lens) Nikon
  • » Pengertian Desain Grafis
  • » Tips dan Triks Memilih Kamera Digital
  • » Awal Perjalanan si Fulan Keturunan Adam
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 4)
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 3)
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 2)
  • » Makna, Arti, Esensi Sebuah Blog (Part 1)
  • » Benarkah AKU ini hanya sebuah Boneka Kehidupan

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *
    *