Hidup adalah sebuah pilihan dan setiap pilihan itu pastilah ada tumbal yang harus dikorbankan… apapun pilihan itu (bukan tentang benar atau salah) tetaplah harus diperjuangkan sekuat tenaga… Pernyataanku kali ini adalah sebuah kesadaran akan arti pentingnya Keindahan… Kebahagiaan yang Haqiqi yang tak pernah bisa terbeli dengan materi yang terangkum dalam sepenggal kisah yang pernah kutulis pada tanggal 08 September 2009 tentang Nurani si anak Hilang…
Kebahagiaan yang Haqiqi itu…
Tak terasa sudah hampir setahun aku di Jakarta… Tinggal di sebuah kontrakan di tengah perkampungan kumuh dan padat penduduk hingga untuk menjemur pakaian pun harus bergantian tempat dengan tetangga lain… Saat aku berangkat kerja, aku punya kebiasaan melihat jalan lurus di depan kamar kosku, hmmm… lebih mirip sebuah pasar… Bagaimana tidak… Kombinasi warung, kamar mandi umum, dapur, dan lahan parkir serta tumpukan sampah yang menggunung sempat membuat aku terus menggelengkan kepala seraya menghela nafas saat kedatangan pertamaku di kota ini…
Namun itu semua belum cukup… Karena sepulang kerja, aku masih mendapat sambutan meriah dari para pemuda kampung yang asyik mendendangkan lagu-lagu masa kini… Aroma keras Alkohol kelas bebek semakin menambah kekhusyukan mereka menari-nari mengikuti irama genjrengan gitar temannya… Semakin larut genjrengan gitar itu semakin riuh dengan tambahan multi treble yang dihasilkan oleh hentakan kartu domino di atas papan… backing vocal berupa tawa tanpa dosa semakin menambah kemeriahan konser kecil yang selalu menjadi ciri khas perkampungan ini… Wooow… Laksana Dongeng sebelum tidur… khusus untukku…

Kekontrasan terjadi saat aku mulai mengerti kehidupan di kantor… Sempat aku bertanya dalam hati kenapa orang-orang rela menghabiskan waktunya di kantor… Berangkat pagi pulang petang… Hmmm… kapan waktu untuk berkumpul dengan keluarga… Anaknya bagaimana… ????
Semua terjawab dalam jangka waktu 1 bulan saat aku menerima gaji pertamaku yang membuat mataku benar-benar terbelalak melihat gaji per bulan para Bos yang kerjanya cuman Rapat… Rapat… dan Rapat… Arrghhh…. Entah iri atau bagaimana saat itu sebuah kata “Rapat” menurutku masih begitu bagus untuk dijadikan ungkapan aktifitas para Bos sehari-hari… Obrolan “MUNAFIK” sepertinya adalah kata yang sanggup mewakilinya tanpa kiasan apapun…
Kutulis semua ini bukan tanpa alasan, karena semuanya telah terekam baik di seluruh organ tubuhku… Tertawa terbahak-bahak dalam ruang Rapat… namun sambil berfikir bagaimana cara menipu si A… si B… si C… dsb… Jika dibuat perbandingan dari total durasi waktu Rapat dari awal hingga akhir, kira-kira hanya 20% mereka punya itikad baik… Selebihnya tak lain cuman obrolan “SAMPAH“… iYaa… Sampah kimiawi yang tersimpan banyak racun hati di dalamnya… dan di akhir bulan… Harga sampah itu adalah 20 kali lipat gajiku… Fyuuughhh…

Kali ini bukannya aku iri… namun kurasa apa yang mereka lakukan tidak pantas dihargai sebesar itu… Itu adalah dasarku untuk berani berkata dengan lantang di puncak gedung bahwa Aku tidak betah di Jakarta…

Bekerja bagiku bukan hanya untuk memenuhi kewajiban yang telah tercantum dalam Surat Perintah Kerja (SPK)… Namun bekerja bagiku adalah tentang apa yang dapat kuberikan pada perusahaanku… Loyalitas adalah wujudnya… yang semakin lama semakin terkikis oleh sistem yang tidak berjalan dengan baik oleh karena sub sistemnya telah terkontaminasi oleh Racun dunia… hahaha…
Itu adalah alasan pertama…
Alasan kedua dan berlaku pula sebagai alasan penutup adalah karena harga “SAMPAH” yang terlampau tinggi itu pula yang sanggup mendorong orang-orang di sini untuk lebih betah di kantor… Tak perlu khawatir keadaan anak istri di rumah… Toh kebutuhan materi untuk istri tercukupi… Toh ada guru les dan guru ngaji yang bisa disewa untuk mendidik anak-anaknya… dan yang terakhir, untuk kebutuhan biologis… hmmm… ada rekan kantor… ada juga yang lain yang dengan ikhlas maupun terpaksa mau disimpan di berangkas yang penuh dengan Rupiah…
Tentang tulisanku ini… Tentang segala sumpah serapahku ini…
Aku hanya ingin mengungkapkan masalah “RASA SYUKUR” sebagai bibit kebahagiaan yang HAQIQI… “KEIKHLASAN” ibarat nutrisinya…
Tertawa dengan IKHLAS ala penduduk kampung…
Tertawa penuh dengan kelicikan ala orang kantor…
adalah sebuah cerita perjalananku di sini…